Kamis, 06 September 2012

pengetahuan tari


TARI-TARIAN SUB ETNIS JAWA WETANAN


1.      ARJUNA WIWAHA
Suatu  lakon  yang sangat digemari sebagai thema drama tari didaerah malang,Surabaya,kediri,blitar ialah arjuna wiwaha. Drama tari dengan lakon ini sering berupa fragmen tetapi juga sering dilakukan secara lengkap. Dalam bentuk fragmennya ditarikan oleh seorang penari arjuna yang dilakukan oleh penari wanita atau pria. Tujuh  orang dari bidadari yang dilakukan oleh penari wanita, seorang penari pria berperan sebagai Siwa:seorang penari babi hutan, dan seorang penari Newatakawaca.
Dalam bentunya yang cukup lengkap lakon ini dipentaskan sebagai sen datari kolosal oleh pusat latihan kesenian candra wilwatikta pandaan pementasan itu berlangsung setiap tahun begiliran dengan lakon-lakon drama tari yang lain. Pelakunya tidak kurang dari 200 orang tariannya bergaya romantik surakarta dengan perkembangan garapan sesuai dengan tuntutan ceirita untuk pertama kalinya sendratari tersebut dipentaskan pada tahun 1970.
Arjuna Wiwaha sendiri di beritakan dalam bentuk karya sastra oleh empu kanwa pada abad ke XI. Sebagai sastra jawa timur kisah ini jadi sangat digemari.kecuali itu juga termuat sebagai relief-relif pada candi Jajago dan Surawana.
Tata busana untuk pementasan Arjuna Wiwaha kebanyakan masih  mengikuti corak tata busana Wayang orang Surakarta disamping sudah dimasuki pola-pola kreasi baru. Namun demikian pada umumnya masih menggunakan celana panji,sampur, kain wiron,stagen keris,endongtopeng serta atribut-atribut yang lain. Mahkotanya sering juga digunakan wig tata rambut.
Iringan tarinya kebanyakan bertolak dari gendhing-gendhing klasik maupun garapan garapan baruyang instrument gamelan pelog–slendro. Nyanyiannya yang di sebut ”gorongan “ di susun dalam bahasa jawa

2.      BAJAK BAJAKAN
Bajak Bajakan di sebut juga Ngremo Somagamar suatu tarian yang bersifat heroik yang dipertunjukan orang dalam pertunjukan Besut yang lengkap di tarikan oleh seorang penari laki laki dengan gaya tari laki laki tarinya bersifat keras, gagah dan garang. Melukiskan seorang laki laki yang berwatak keras.
Dalam pertunjukan Besut yang lengkap, Bajak Bajakan ini tampil sebagai tarian laki laki yang bermaksud jahat terhadap kakang Besut. Karenanya gerak tariannya adalah tingkah laku seorang jagoan. Gerak gerak
Pencak silat tampak di pergunakan terutama pada ragam ragam kembangannya. Tetapi dalam ceritanya maksud jahat itu diurungkan atas nasehat Manjamino, dana sampai disitu peran itupun tidak muncul lagi.
Pertunjukan Besut sekarang ini sudah tidak pernah dilakukan lagi, dan berger menjadi pertunjukan ludruk yang mengutamakan kisah, dengan demikian tarian bajak bajakan atau ngremo Somagambaritupun sudah tidak pernah ditampilkan orang. Akan tetapi gaya tariannya masing masing yang muncul dalam tari nremo gaya putra pada awal pertunjukan petunjukan ludruk, hanya saja ragam ragam tariannya sudah banyak dikembangkan dan terpadu dengan berbagai gaya Ngremo yang lain, seperti ngrebesut, Beskalan lanang maupun tarian tarian lepas yang lain.
Busanannya tidak ada suatu ketetuan maton, tetapi pada umumnya menggunakan kopyah atupun destar. Berkemeja putih dengan rompi berdasi hitam. Berkain batik serta rapek dan celana panji-panji atribut- atribut yang lain adalah hiasan –hiasan sebagai yang sering dikenakan para bangsawan pada abad ke XVII. Ada kalanya kemejanya juga hitam sebagaimana sering digunakan kaum bangsawan waktu itu. Dengan tarinya jula-juli dan krucilan. Gamelannya adalah slendro.


3.   BESKALAN LANANG JATIGUWI  

      Suatu tarian yang di lakukan oleh seorang penari laki laki dengan gaya tari laki laki. Tarian ini terdapat di jatiguwi, Kecamatan sumber pucung, Kab Malang. Disebut Beskalan lanang oleh karena di daerah Malang ada juga tarian Beskalan putri yang dilakukan secara tunggal atau berpasangan empat penari.
Baskalan lanang merupakan pengembangan garapan dari tarian Topeng, tetapi lebih terlihat sebagai ungkapkan spontanitas individual Satu dan yang lain hal hampir tidak berbeda dengan tarian ngremo di Surabaya maupun jombang, oleh karenanya sering di sebut juga dengan Ngremo gaya Malang.
Satu satunya perbedaan yang menyolok ialah bahwa iringannya menggunakan Pelog dan dengan Gending Beskalan, teropongan dan krucilan tarian ini dipertunjukan untuk mengawali dramatari topeng atau ludruk ataupun tayup. Penari penarinya yang terkenal antar lain bapak Chattan,bapak Sapari, bapak Marja,dan bapak Radi.
Si penari mengenakan ikat kepala, baju lengan panjang celana panji,kain batik,stagen,sampur rapek dan tak ketinggalan : gongseng.

3.      BIYADA MUSUSI
Merupakan salah satu tarian dalam drama tari wayang tradisional daerah Malang,terutama di desa Jabung kecamatan Tumpang Malang. Ditarikan sebagi atraksi lawak dalam bentuk gerak tari ketika adegan dimana Gunungsari-Patrajaya. Menurut istilah setempat adegan semacam itu disebut permainan. Penarinya adalah unungsari dan Patrajaya, keduanya dimainkan oleh penari laki-laki,masing-masing dalam gaya yang berbeda. Garapan tarinya bersifat pantomime.
Biyada mususi menggambarkan sikap serta tingkah laku seorang gadis yang sedang mencuci beras disuatu sumber air. Sikap dan tingkah laku penari dikembangkan serta diungkapkan secara pentomimik,spontan dan kreatif. Gerak tarinya lebih bersiftat representative.
Patrajaya akan mengungkapkannya dengan lucu sekali sehingga menimbulkan gelak tawa para penontonnya. Kemudian Gunungsari akan memberikan contohnya dengan indah dan menarik. Disinilah sebenarnya tuntutan teknis tari bagi penarinya. Kreatifitaspun dikembangkan, misalnya tingkah laku si gadis waktu membawa bakul berisi beras,menampinya,pergi ke sungai,menadah air yang memancar di tebing sungai,mencuci berasnya, membuang air cuciannya, kadang-kadang diselingi dengan mandi di sungai pula. Irngan untuk tarian ini adalah gendhing Beskalan pelog lengkap. Kendang dimainkan secara improvisatoris menyesuaikan seta menghidupkangerak tarinya. Sebenarnya selain Biyada Mususi masih ada jenis-jenis lain sebagai permainan. Seluruhnya ada 11 macam yaitu : Biyada Mususi, Gambuh Mara Seba,Mundur Cecebolan,Sinantiyanjala,Merak Kesimping,Merak ngigel,tikus ngungak salang,Jalak Kecancang, Waderpari nungsung beji,Temanten purik,Dali nyampar Banyu.
Penari Gunungsari mengenakan mahkota dari kulit,celana panji, kain batik dengan lipatan disamping kiri, rapek stagen,sampur disampir pundak,keris, gongseng,ikat kepala batik. Keduanya mengenakan topen,Gunungsari bertopeng putih, halus dan bagus. Patrajaya bertopeng kecoklatan, tanpa dagu,bermata sipit dan lucu.

4.      COKRONEGORO
Tergolong suatu tarian kreasi baru yang diciptakan oleh bapak Munali Fatah dari Sidoarjo. Tarian ini dapat ditarikan oleh seorang penari atau pun ditarikan secara massal. Penari bias pria maupun wanita tetapi tetap gaya tarinya adalah tarian putra.
Tarian ini menggambarkan keperwiraan salah seorang bupati Sidoarjo yang bernama Cokronegoro. Tarian ini memang dimaksudkan sebagai kenangan akan tokoh tersebut.
Hal ini terjadi atas keinginan masyarakat Sidoarjo yang ingin memiliki tari-tarian khas daerahnya.
Garapan tarinyabertolak dari gerak-gerak tari remo serta ragam-ragam pencak silat tradisional.
Trian ini dipentaskan pertamakalinya pada tahun 1975 sebanyak 200 penari. Dan seterusnya sering dipentaskan sebagai tarian tunggal atau komposisi beberapa penari untuk memeriahkan resepsi atau pesta-pesta.
Tata busana terdiri dari ikat kepal baju lengan panjang, rompi, celana panji, kain batik, rapek, stagen, sampur, keris, gongseng 
TARI JAWA TIMUR KULONAN
1.       Sebuah drama tari serupa wayang wong yang mendasarkan themanya pada siklus panji. Drama tari demikian terserbar di daerah kabupaten Kediri, Tulungagung dan Nganjuk. Dipertunjukan orang untuk pesta-pesta perkawinan,khitanan atau peringatan hari besar nasional. Pada permulaanya drama tari ini berkisah tentang ande-ande lumut, yaitu nama sang Panji Asmara Bangun ketika pangeran itu menyamar sebagai pemuda desa dan tinggal pada rumah mbok rondho Dadapan. Cerita ini sangat digemari karena penuh humor yang segar. Lama kelamaan, sekalipun drama tari itu tidak berkisah lagi tentang ande-ande lumut,selalu diberi nama juga ande-ande lumut,asal saja berthemakan siklus panji. Karena di daerah-daerah tadi, drama tari tadi kebanyakan dimainkan oleh kelompok-kelompok wayang wong yang berorientasi pada cerita Ramayana dan Mahabarata,maka identnifikasi tokoh-tokohnya juga tidak lepas dari orientasi pada tokoh-tokoh epos tersebut. Identifikasi tersebut meliputi tata busana,rias,dialog,gerak tari serta pewayangannya. Misalnya arjuna identik dengan Panji Asmarabangun, sembodro diidentikan dengan sekartaji dan lain sebagainya. Gamelan bias berupa pelog atau slendro. Panggung bias berupa arena ataupun konvesional, baik dengan dekor-dekor realistis maupun tanpa latar belakang apapun. Peran putri atau putra alusan seperti Gunungsari, sinom Perdopo, dan Asmarabangun, dilakukan oleh penari putri.

2.       ANDONG-ANDONG
Suatu seni pertunjukan yang mengutamakan segi hiburan,dimana adanya suatu pernyataan spontanitas kegembiraan. Penari-penarinya adalah wanita-wanita yang dipilih agar menarik penonton, yang kebanyakan kaum laki-laki. Diberbagai daerah ada juga penari laki-laki yang berpakaian perempuan . didalam kelompok pertunjukan ini terdapat lebih dari 2 penari utama. Pementasan diselenggarakan dimana saja, karena rombongan andong-andong pelakukan pertunjukan keliling, menawarkan hiburan kepada siapa saja atau langsung bermain,sementara seorang anggota mengedarkan semacam baki nampan bamboo( tampah) kepada penonton secara sukarela.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar